Jumat, 12 November 2010

BERITA SURAT PENGUNDURAN DIRI DARI PERUSAHAAN

Kepada Yth,
bapak Mochtar Muhammad
Karyawan PT. INDO IT
Jl. Raya Burangrang No. 5
Bandung

Dengan Hormat,
asalamualaikum wr wb.
atas surat pengunduran saudara pada tanggal 12 november 2009, saya sudah terima dan sudah diproses oleh perusaha bahwa anda diperbolehkan untuk ngengundurkan diri diperusaha PT. INDO IT,saya selaku derektur utama mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas saudara sudah mengabdi diperusahaan ini selama 1 tahun.
atas perhatian dan kerjasamanya terima kasih, walaikum salam wr wb.

DEREKTUR UTAMA




HARDIYANSYA

Selasa, 12 Oktober 2010

SURAT PENGUNDURAN DIRI

Kepada Yth,
Manajer PT. INDO IT
Jl. Raya Burangrang No. 5
Bandung

Dengan Hormat,
Bersama surat ini saya Mochtar Muhammad mengajukan permohonan mengundurkan diri sebagai karyawan dari PT. INDO IT sebagai Kepala Web Desain PT. INDO IT terhitung sejak tanggal 29 Juli 2009
Saya ucapkan yang sebesar-besarnya terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan PT. INDO IT kepada saya untuk bekerja di PT. INDO IT sebagai Kepala Web Desain PT. INDO IT selama kurang lebih 1 tahun ini.
Tak lupa saya mohon maaf kepada jajaran manajemen PT. INDO IT apabila terdapat hal-hal yang tidak baik yang telah saya lakukan selama bekerja di PT. INDO IT
Saya berharap PT. INDO IT menjadi perusahaan yang terus maju dan sukses menjadi “Nomor 1 di Indonesia”.
Hormat saya


Mochtar Muhammad

Sebelum dia berhenti dari PT INDO IT, Bapak Mochtar Muhammad pernah menjabat menjadi kepala Web Desain di PT INDO IT. Sangat di sayangkan seorang Bapak Mochtar Muhammad berhenti di saat karilnya dia naik jabatan dari menejer Web Desain langsung menjadi kepala bagian Web Disain.
Dikarenakan pada saat dia sebelum mengundurkan diri, bapak Mochtar Muhammad pernah diajak seseorang temannya yang bekerja di PT.KENCANA yang letakny di gatot subroto Jakarta pusat, yang bernama Bapak Doni Febriana yang berjabat seorang derektur, Bapak mochtar Muhammad diajak dan dijanjikan apabila dia ingin bekerja sama maka bapak mochtar Muhammad akan menajadi menejer PT.KENCANA dengan gaji yg sangat tinggi dan fasilitas yang sangat bagus.

Jumat, 30 Juli 2010

Senin, 24 Mei 2010

Kisah kesuksesan dalam berbisnis

Wahyu Aditya
Pemilik helloMotion

Meraup Dollar dari Hobi Gambar
Belbekal kegemaran menggambar dari buku sampai dinding ia kini memiliki sekolah desain dan animasi ditanah air dan berhasil meraup setumpuk dollar. Penghargaan bergensi internasional young screen entrepreneur of the year 2007 diinggris berhasil diraihnya. Hobi yang dikemas dengan kreativ, ternyata menghasilkan laba yang sangat luar biasa, sekaligus idealisme memukau.
Muda, pintar,kreatif, memiliki bisnis sendiri dan banyak uang, menjadi impian banyak orang. Gara-gara sering menyaksikan acara “gemar menggambar” yang ditayangkan di TVRI era 70an, di usianya yang masih relative muda, wahyu aditya (29) nyaris memilikin semuanya. Dengan kemampuannya di bidang desain grafik dan animasi ditanah air. Bahkan ia pun banyak diburu oleh perusahaan kreatif untuk menggarap sederet iklan. Baik komersial maupun iklan layanan masyarakat.
Dalam melakukan hobinya wahyu aditya berhasil memenangkan lomba menggambar tingkat kabupaten pada saat duduk di bangku taman kanak-kanak, menumbuhkan keyakinan wahyu aditya bahwa mwnggabar adallah kegiatan yang dapat menghasilkan kesejahteraan. Berbekal npendidikan multimedia du Sydney.


Sinta
pemilik keripik pisang ibu mery

mewujutkan Mimpi-mimpi dari kreripik pisang.
Sinta yang masih bersatus mahasiswa ini tidak punya modal besar untuk menjadi pengusaha jangankan bermobil sjak kecil ia biasa berpindah rumah kontrakan karena orang tuanya tak mampu membeli rumah. Segudang mimpi berputar di benaknya siang dan malam dalam rangka memperoleh kestabilan dan keamanan funansial. Dengan manfaatkan ilmu yang diperoleh pada saat dia berkerja dipabrik krip[ik pisang,si pemilik serius ini berhasil membuat keinginannya menjadi kenyataan melalui istana keripik pisang ibu mery.
Ulet dan tanggu rupanya, jiwa bisnis sudah terbentuk dalan diri sinta sejak ia kecil. Karena tak ingin putus sekolah seperti kakak-kakaknya, keuletannya dan ketangguannya juga terlihat ketika ia berusaha mengembakan keripik pisang ny. Memang ia beruntung, karena rumah orang tuanya berada ditempat strategis. Lokasinya persis di pinggir jalan.. rupiah demi rupiah kembali ia kumpulkan.


Jevri van novis
Pemilik PT bonita anugra oratama tour and trafel.

Juragan bra yang terobsesi bonita
berawal dari kegigihannya menjualpakaian dalam wanita, bisnis jefri terus berkembang. Setelah sukses mengembangkan usaha biro perjalanan dipasar grosir aur kuning di bukit tinggi, kini ia merengsek ke pusat grosir dunia ditanah abang blok A, Jakarta.
Bonita dalam bahasa spanyol berarti wanita jelita. Nama inilah yang begitu melekat dan takbisa dipisahkan dari jefri van novis, pria lajang kelahiran bukit tinggi 27 tahun yang lalu. Kemana-mana ia selalu membawa pakaian dalam wanita.


CITA-CITA SAYA
Pada waktu saya masih duduk dibangku sekolah dasar, saya sangat ingin mencita-citakan menjadi TNI-AL, saya ingin sekali m,enjadi seorang angkatan laut karena bagi saya angkatan laut adalah seorang patriot yang sanagt berjuang untuk menjaga lautan indonasia supaya lautan Indonesia tidak lagi dirusak oleh bajak laut maupun orang lain dan Negara lain supaya laut Indonesia bersih menjaga klestarian lautan Indonesia.
Tetapi cita-cita saya sudah sirna begitu saja pada saya berusia 12 tahun atau lebih tepatnya saya duduk di sekolah menengah pertama (smp) kelas 2, Karena saya mengalami rabun jauh, pada mata saya rabun jauh saya perlahan – lahan mengilangkan cita cita saya.
Karena seorang TNI harus memiliki badab bugar, sehat jasmani maupun rohani apabila saya tidak memiliki criteria seperti itu saya tidak bias menjadi TNI.

Senin, 29 Maret 2010

kericuhan sekandal bank century

Orang pasti akaat Gus Dur tokoh besar bangsa ini, bahwa anggota DPR seperti taman kanak-kanak. Pendapat tersebut terbukti lagi ketika hari ini masyarakat melihat peran politik anggota dewan yang memang menurut banyak masyarakat mirip bukan orang dewasa.
Sandiwara politik yang diperankan anggota dewan itu menampilkan kisruh yang sangat memalukan dan tidak patut ditampilkan anggota DPR. Rapat paripurna DPR penyampaian laporan akhir hasil kerja Pansus Century yang berlangsung Selasa ( 2/2/10) berakhir ricuh. Banyak koor huuu, ketika ketua Pansus membacakan laporannya dan banyak interupsi yang saling serobot tidak elok dilihat. Belum lagi ketika seorang anggota dewan maju melabrak meja ketua sidang. Bahkan lemparan botol mengenai meja pimpinan sidang. Setelah itu kisruh mulai terjadi di dalam dan di luar gedung DPR. Semua dipicu juga ketika ketua sidang Marzuki Ali menutup sidang.
Interupsi yang bertubi-tubi dari anggota DPR tidak bisa dihentikan Ketua DPR Marzuki Alie yang memimpin sidang, sehingga akhirnya para anggota DPR saling berebut kesempatan menyalakan mikrofonnya.
Karena tidak mendapat kesempatan mengutarakan pendapatnya, sejumlah anggota DPR akhirnya berlari menuju podium pimpinan sidang dan menegur langsung Marzuki Alie. Keadaan itu memancing polisi dan satuan pengaman dalam (pamdal) DPR-RI untuk memasuki ruang sidang serta memagari Ketua DPR.
Berdasarkan pengalaman, selama persidangan di parlemen, masuknya aparat keamanan telah menunjukkkan situasi di ruang rapat tidak terkendali lagi. Rapat kemudian ditutup untuk lobi pimpinan fraksi. Anggota fraksi kemudian berkumpul di ruang yang berbeda-beda.
Anggota F-PG Nudirman Munir menuding Ketua DPR telah melakukan ”pemakzulan” terhadap demokrasi karena telah berperilaku otoriter dalam memimpin persidangan yang cukup penting seperti saat ini. ”Dengan mematikan mikrofon sehingga anggota tidak bisa bicara, ini sama artinya dengan memasung hak-hak para anggota,” ujarnya.
Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso (Golkar), Pramono Anung (PDI-P) dan Anis Matta (PKS) menyesalkan sikap Ketua DPR yang menutup sidang secara sepihak. Priyo juga menjelaskan bahwa para Wakil Ketua DPR telah memberi saran kepada Marzuki Alie untuk menskors rapat paripurna saat terjadi interupsi bertubi-tubi. ”Saya sudah ingatkan ketua, ’skor dulu, lobi dulu ketua…’ Tetapi rapat langsung ditutup, ya… sudah,” katanya.
Setelah mengetuk palu, kata Priyo lagi, Marzuki langsung meninggalkan ruang rapat paripurna, sementara empat Wakil Ketua DPR tetap duduk di tempat masing-masing dan tidak beranjak.
Mengenai kericuhan dalam rapat paripurna, Marzuki menyayangkan hal itu. Menurutnya, kericuhan terjadi karena anggota DPR tidak bisa tertib. ”Semua maunya ‘ngomong’. Bersamaan memencet tombol mikrofon, ya… mati semua mikrofonnya. Mikrofon akan mati seluruhnya apabila empat anggota DPR memencet secara bersamaan,” jelasnya.
Marzuki menyatakan tidak seharusnya pihaknya menjadi tumpuan kesalahan akibat adanya sistem pengeras suara yang mengganggu persidangan. ”Masalah mikrofon itu bukan urusan Ketua DPR,” katanya.
Sempat terjadi tarik-menarik di antara sejumlah anggota Dewan, salah satunya adalah anggota Panitia Angket dari Partai Hanura, Akbar Faisal. Awalnya, Akbar mendatangi meja pimpinan untuk membacakan tata tertib DPR. Namun, aksinya itu menimbulkan reaksi dari anggota Dewan lainnya. Walhasil, sejumlah anggota DPR terlihat mendatangi Akbar dan menariknya agar segera menjauh dari podium. “Saya rasa anggota Dewan yang pertama kali menarik saya, kemudian baru Pamdal. Saya tidak terlalu jelas,” kata Akbar dalam keterangannya seusai kejadian, di Gedung DPR, Selasa (2/3). Menurut Akbar, ia melakukan hal itu sebagai reaksi atas sikap pimpinan DPR yang membuka kesempatan bagi Partai Demokrat untuk menyampaikan novum baru dalam kasus Century. “Mengapa tidak disampaikan dalam rapat Panitia Angket sebelumnya. Dalam hal ini, pemimpin rapat melakukan tindakan otoriter dan mencederai konstitusi,” kata Akbar.
Sidang Paripurna DPR RI hari ini mengagendakan pembacaan laporan akhir Panitia Khusus Hak Angket Bank Century. Namun, karena sempat diwarnai kericuhan, maka sidang pun ditunda hingga pukul 14.00 WIB. Wakil Ketua DPR, Priyo Budi santoso, mengagendakan untuk mengadakan rapat pimpinan DPR RI untuk menyikapi masalah tersebutn teringat pendap.

Senin, 15 Februari 2010


Yakinkah Anda bahwa buah dari kebaikan pasti dibalas dengan kebaikan oleh Tuhan? Entah dibalas dalam bentuk kebaikan yang sama ataupun dalam bentuk lainnya. Entah balasan tersebut tiba seketika ataupun tiba pada waktu yang lain. Demikian pula balasan serupa atas keburukan. Balasan atas kebaikan atau keburukan seseorang dapat tiba pada saat di dunia dan pastinya akan tiba pada kehidupan selanjutnya kelak. Sebagai orang beriman, tentunya kita yakin. Begitu kan?

Kali ini saya mau bercerita tentang dua keluarga yang saya kenal baik, yang keduanya memiliki akhlak yang terpuji. Keluarga guru dan keluarga penjual bubur ayam.

Saya sering mengamati para guru dan keluarganya yang sederhana, khususnya para guru yang mendidik anak-anak yang dibimbingnya di sekolah dengan kegairahan dan ketekunan yang tinggi. Mereka mencintai dan bangga dengan pekerjaanya. Guru yang mencintai pekerjaannya ini jauh lebih banyak dari yang sebaliknya. Saya selalu terkesan terhadap para guru yang terpuji ini dan selalu berusaha memetik inspirasi kebaikannya.


Saya sering membayangkan bagaimana para guru ini mendidik anak-anaknya di rumah. Terhadap anak didiknya saja, mereka mengajar penuh cinta, tentunya dapat dibayangkan bagaimana mereka mendidik anak-anaknya sendiri.

Dengan gaji guru yang dulu belum sepenuhnya layak, adakah buah yang hilang dari kebaikan-kebaikan para guru itu? Saya yakin tidak. Banyak bukti, setelah dewasa anak-anak para guru dan pendidik terpuji itu umumnya berprestasi dan memiliki kepribadian yang tidak berbeda dengan orangtuanya.

Salah satu yang saya kenal baik adalah guru kami saat belajar di SMP 1 Pandeglang, Pak Oman. Pak Oman mendidik kami dengan penuh cinta, menemani kami saat di kelas maupun di luar kelas dengan sama antusiasnya. Di luar kelas, ia sering menempatkan diri sebagai teman. Kami sering bermain pingpong sore hari. Kadang, ia selipkan pelajaran-pelajaran moral saat bermain tersebut, meskipun ia bukan guru Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Setahu kami, Pak Oman hidup tidak berlebihan, tinggal di rumah sederhana dan sepenuhnya mengajar di SMP tempat kami menimba ilmu.

Beberapa puluh tahun kemudian, saya mendapat kabar keempat anaknya telah berhasil menamatkan perguruan tingginya. Semuanya berhasil diterima dan tamat di perguruan tinggi negeri (PTN). Semua anaknya rajin mengunjungi kedua orang-tuanya setelah masing-masing berkeluarga dan tinggal di luar kota Pandeglang, kota Pak Oman tinggal dulu dan sekarang.

Dua tahun lalu, saya sengaja berkunjung ke rumahnya untuk bersilaturahmi sekaligus ingin menyampaikan ungkapan terima kasih atas banyaknya nilai-nilai moral yang beliau tanamkan saat di SMP. Rumahnya yang sederhana saat itu sedang direnovasi atas inisiatif keempat anaknya. Pak Oman hidup sehat dan bahagia. Ada wajah berseri-seri yang saya tangkap saat jumpa dengan beliau, dan kata-kata syukur yang selalu diucapkannya. Wajah berseri-seri itu sama dengan wajah saat dulu beliau mengajar.

Terima kasih Pak Oman, bapak luar biasa. Bapak mengajarkan kami tentang bagaimana mencintai pekerjaan, layaknya bapak sedang mengukir karya agung, sebuah persembahan terbaik kepada Sang Pencipta, Dia yang Maha Menatap. Ilmu yang Bapak berikan pada kami, Insya Allah menjadi salah satu sumber amalan yang akan terus mengalir sebagai tambahan bekal untuk kehidupan Bapak selanjutnya kelak, amien.

Cerita kedua adalah kisah seorang penjual bubur ayam bernama S. Kartajaya (alm), yang saya kenal pada awal tahun 90an di Bogor. Saya sebut beliau, Pak Karta saja. Sejak sebelum tahun 1988, Pak Karta membina hubungan persahabatan dengan seorang pemilik restoran yang memiliki cita rasa yang luar biasa, sebuah restoran terkenal di Bogor pada tahun 80an dan 90an. Tempat parkirnya selalu sesak oleh antrian mobil pelanggan.

Di depan restoran tersebut, Pak Karta mendapat tempat untuk berjualan warung bubur ayam atas izin sang pemilik restoran, sahabatnya. Pak Karta bahkan diperbolehkan menggunakan nama restoran tersebut sebagai merek dagang warung bubur ayamnya. Selain cita rasa bubur rumahan yang unik, ada juga pangsit yang rasanya nikmat. Saya tidak sempat menggali informasi, apakah Pak Karta menyewa atau tidak untuk berjualan bubur tersebut, kecuali bahwa ia membangun warungnya dengan biaya sendiri.

Keadaan berubah ketika sang pemilik restoran terkenal tersebut wafat. Anak-anak pemilik resto terkenal tersebut berbeda sikap dengan ayahnya yang sudah wafat tentang keberadaan warung bubur ayam tersebut. Sang anak, pewaris restoran tersebut meminta Pak Karta pindah dan melarang penggunaan merek restorannya pada tahun 2002.

Dalam keadaan kebingungan, Pak Karta tiba-tiba harus pindah lokasi sekitar 200 meter dari lokasi semula dengan posisi warung agak menjorok ke dalam dari jalan raya dan memilih merek dagang yang baru, tanpa sempat memberitahu semua pelanggannya. Namun, rupanya Pak Karta cerdik dan tidak kehabisan akal. Mobil kijang merah tua tahun 70an, yang biasanya terparkir di depan warung buburnya diparkirkan di pinggir jalan raya, sebagai penanda kepindahannya. Sebagai pelanggan, saya tetap dapat mengenali kijang merah tua tersebut, dan tetap mengunjunginya secara rutin, sama seperti banyak pelanggan lainnya.

Cita rasa bubur ayamnya memang tak tergantikan, disertai pelayanan ramah Pak Karta dan anak-anaknya. Kadang-kadang, Pak Karta juga ikut bincang-bincang dengan para pelanggannya, termasuk kami sekeluarga.

Saya hanya sempat mendapat informasi dari Pak Karta bila beliau terpaksa pindah dan mengganti merek dagangnya, karena tidak diizinkan oleh sang pewaris restoran terkenalnya, dan mengetahui bila anak-anak pemilik restoran tersebut tidak ikut mengelola restoran tersebut pada saat jayanya. Pak Karta pernah bercerita tentang indahnya persahabatan dengan sang pemilik restoran terkenal tersebut.

Pada tahun 2006, Pak Karta juga wafat, menyusul sahabatnya, sang pemilik restoran bercita rasa tinggi itu. Pak Karta meninggalkan warisan sikap ramah, loyalitas pelanggan dan kebaikan bagi anak-anaknya, pelanjut usaha bubur ayamnya. Setiap kami berkunjung ke tempat bubur ayam itu, anak-anaknya melayani para pelanggannya dengan ramah, tidak berbeda dengan ayahandanya yang sudah wafat.

Bagaimana nasib restoran bercita rasa tinggi itu? Setelah ditinggalkan sang pendiri, tahun-tahun selanjutnya restoran tersebut tampaknya mengalami kesulitan dan tidak mampu bersaing dengan beberapa restoran sekitarnya. Beberapa tahun terakhir, saya sering mengamati saat makan siang tiba, tidak banyak kendaraan yang terparkir di depan restoran tersebut. Keadaan justru berbeda dengan restoran yang terletak di seberang restoran yang pernah terkenal itu, yang selalu penuh dijejali pengunjung, padahal baru berdiri awal tahun 2000an.

Puncaknya, beberapa kali kami lewati beberapa bulan terakhir, restoran tersebut tampak telah berganti nama. Apa yang terjadi sebenarnya, wallahu’alam.

Apa moral kedua kisah nyata tersebut? Anda bebas mengambil moral cerita apa saja. Yang pasti, saya menyaksikan raut wajah kebahagiaan dari Pak Oman; Sang Guru Terpuji itu. Saya juga menyaksikan raut wajah keramahan dari Pak Karta, Sang Penjual Bubur Ayam Terpuji itu dan anak-anaknya; pelanjut warung bubur ayamnya.

Teman, saya yakin Anda semua punya banyak kisah sejenis. Tuhan pernah berujar “Aku, sebagaimana prasangka Hamba-ku”. Prasangka baik dan berpikir positif adalah sikap yang terpuji, sebab semua yang kita alami hari ini adalah buah dari perbuatan kita pada masa lalu.