Senin, 29 Maret 2010

kericuhan sekandal bank century

Orang pasti akaat Gus Dur tokoh besar bangsa ini, bahwa anggota DPR seperti taman kanak-kanak. Pendapat tersebut terbukti lagi ketika hari ini masyarakat melihat peran politik anggota dewan yang memang menurut banyak masyarakat mirip bukan orang dewasa.
Sandiwara politik yang diperankan anggota dewan itu menampilkan kisruh yang sangat memalukan dan tidak patut ditampilkan anggota DPR. Rapat paripurna DPR penyampaian laporan akhir hasil kerja Pansus Century yang berlangsung Selasa ( 2/2/10) berakhir ricuh. Banyak koor huuu, ketika ketua Pansus membacakan laporannya dan banyak interupsi yang saling serobot tidak elok dilihat. Belum lagi ketika seorang anggota dewan maju melabrak meja ketua sidang. Bahkan lemparan botol mengenai meja pimpinan sidang. Setelah itu kisruh mulai terjadi di dalam dan di luar gedung DPR. Semua dipicu juga ketika ketua sidang Marzuki Ali menutup sidang.
Interupsi yang bertubi-tubi dari anggota DPR tidak bisa dihentikan Ketua DPR Marzuki Alie yang memimpin sidang, sehingga akhirnya para anggota DPR saling berebut kesempatan menyalakan mikrofonnya.
Karena tidak mendapat kesempatan mengutarakan pendapatnya, sejumlah anggota DPR akhirnya berlari menuju podium pimpinan sidang dan menegur langsung Marzuki Alie. Keadaan itu memancing polisi dan satuan pengaman dalam (pamdal) DPR-RI untuk memasuki ruang sidang serta memagari Ketua DPR.
Berdasarkan pengalaman, selama persidangan di parlemen, masuknya aparat keamanan telah menunjukkkan situasi di ruang rapat tidak terkendali lagi. Rapat kemudian ditutup untuk lobi pimpinan fraksi. Anggota fraksi kemudian berkumpul di ruang yang berbeda-beda.
Anggota F-PG Nudirman Munir menuding Ketua DPR telah melakukan ”pemakzulan” terhadap demokrasi karena telah berperilaku otoriter dalam memimpin persidangan yang cukup penting seperti saat ini. ”Dengan mematikan mikrofon sehingga anggota tidak bisa bicara, ini sama artinya dengan memasung hak-hak para anggota,” ujarnya.
Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso (Golkar), Pramono Anung (PDI-P) dan Anis Matta (PKS) menyesalkan sikap Ketua DPR yang menutup sidang secara sepihak. Priyo juga menjelaskan bahwa para Wakil Ketua DPR telah memberi saran kepada Marzuki Alie untuk menskors rapat paripurna saat terjadi interupsi bertubi-tubi. ”Saya sudah ingatkan ketua, ’skor dulu, lobi dulu ketua…’ Tetapi rapat langsung ditutup, ya… sudah,” katanya.
Setelah mengetuk palu, kata Priyo lagi, Marzuki langsung meninggalkan ruang rapat paripurna, sementara empat Wakil Ketua DPR tetap duduk di tempat masing-masing dan tidak beranjak.
Mengenai kericuhan dalam rapat paripurna, Marzuki menyayangkan hal itu. Menurutnya, kericuhan terjadi karena anggota DPR tidak bisa tertib. ”Semua maunya ‘ngomong’. Bersamaan memencet tombol mikrofon, ya… mati semua mikrofonnya. Mikrofon akan mati seluruhnya apabila empat anggota DPR memencet secara bersamaan,” jelasnya.
Marzuki menyatakan tidak seharusnya pihaknya menjadi tumpuan kesalahan akibat adanya sistem pengeras suara yang mengganggu persidangan. ”Masalah mikrofon itu bukan urusan Ketua DPR,” katanya.
Sempat terjadi tarik-menarik di antara sejumlah anggota Dewan, salah satunya adalah anggota Panitia Angket dari Partai Hanura, Akbar Faisal. Awalnya, Akbar mendatangi meja pimpinan untuk membacakan tata tertib DPR. Namun, aksinya itu menimbulkan reaksi dari anggota Dewan lainnya. Walhasil, sejumlah anggota DPR terlihat mendatangi Akbar dan menariknya agar segera menjauh dari podium. “Saya rasa anggota Dewan yang pertama kali menarik saya, kemudian baru Pamdal. Saya tidak terlalu jelas,” kata Akbar dalam keterangannya seusai kejadian, di Gedung DPR, Selasa (2/3). Menurut Akbar, ia melakukan hal itu sebagai reaksi atas sikap pimpinan DPR yang membuka kesempatan bagi Partai Demokrat untuk menyampaikan novum baru dalam kasus Century. “Mengapa tidak disampaikan dalam rapat Panitia Angket sebelumnya. Dalam hal ini, pemimpin rapat melakukan tindakan otoriter dan mencederai konstitusi,” kata Akbar.
Sidang Paripurna DPR RI hari ini mengagendakan pembacaan laporan akhir Panitia Khusus Hak Angket Bank Century. Namun, karena sempat diwarnai kericuhan, maka sidang pun ditunda hingga pukul 14.00 WIB. Wakil Ketua DPR, Priyo Budi santoso, mengagendakan untuk mengadakan rapat pimpinan DPR RI untuk menyikapi masalah tersebutn teringat pendap.